Sore itu, gue asyik bermain dengan handphone (HP) silver tipis gue. HP yang gue beli saat seorang teman kepepet mau bayar kontrakan. (Ngga sengaja juga jadi malaikat yang ngulurin tangan buat sebuah keluarga.. aih.. aih…. Mulianya gue ini…). Jelas bukan HP yang keren, tapi cukup membuat orang perhatiin kombinasi telepon genggam dan tangan gue yang lentik (ealaaah, pede amat….). Gue memang bukan tipe wanita yang suka barang-barang mewah (ini sih salah satu cara gue nge-les nggak ada duit buat beli HP keren.. wahaha). Bukan pula tipe yang demen corang coreng muka alias dandan abis (nge-les lagi deh ngga ada duit buat beli alat-alat begituan). Gue cenderung menyukai kesederhanaan, bukan cuma barang… cara berpikir gue juga simple (walah!).
“Oi… ngapain sih senyum-senyum kaya Orgil?’”
Senyum gue yang manis ternyata nggak bisa menjawab pertanyaan kawan gue yang nggak pernah penting itu.
“Sialan, ditanya malah cengar cengir…!”
Gue nyelonong tanpa kata-kata… Jujur, gue juga nggak tahu apa yang bikin gue cengar cengir jail ini… Mungkin emang sudah gila atau lagi tergila-gila ama hal yang nggak penting juga? Sambil nunggu maghrib (bukan karena puasa sih), cuma cukup waktu sambil ngepul sesaat kelabuhi tenggorokan gue yang acapkali rindu asap yang satu ini.
Gue nggak tahu, kenapa mantan gue yang faktanya putusin gue yang manis ini gara-gara mabok dengan perempuan lain, tiba-tiba inget ama gue. Perpindahan jatuh cinta dari WANITA yang manis ke PEREMPUAN cantik… ada apa gerangan? Sengaja dibedakan istilahnya, biar punya alasan kuat buat putusin. Nggak ada hujan, nggak ada angin, tiba-tiba Andrew (nama mantan gue) mancing onar dengan sms-smsnya ke gue. Seneng juga sih, diperhatikan…. tapi gue udah terlanjur punya hasrat buat mati-matian nggak ada kesedihan lagi… Closed Case istilah kerennya…
Entah kenapa, masih saja gue layanin cowok mabok kaya Andrew. Gue sih nggak sakit hati..sama sekali diputusin, buat apa? Jatuh cinta kan hak siapapun dan boleh ke siapapun.. kebetulan aja, waktu dia jatuh cinta lagi, paaaaaas banget jadi cowok gue (berusaha bijak dan sabar, terima kenyataan bak Dalai Lama).
Otak jail gue tergoda buat tetap terus keep in touch dengan Andrew dan keluarga, dan……. tetap bermanis-manis muka. Sssst… salah.. bukan otak jail kok.. gue emang diciptakan Tuhan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan… So. Begini nih, jadinya….sengsara dinikmati…sedih dirangkul, senyum terus mengembang kesana kemari, meski hati merintih pedih tak terperi. Puitius juga nih, kata-kata….
Tut.. Tut… Tut… Andrew kirim sms lagi (Ringer zaman sekarang kan macem-macem.. boleh juga tuh yang seperti ini, biar semua minggir nyangka kereta)
“Rasanya aku mau ke Bandung…”
Begitu bunyi sms Andrew ke gue. Otak gue nggak mempan kena sambaran geledek itu. Aneh juga, pikir gue. Kenapa sms ke gue? Lama gue bingung harus balas apa, tapi bukan gue kalau nggak sanggup bersilat lidah soal beginian. Cincay….
“ Rasanya…..?”
Sms pun terkirim dengan singkat dan padat. Gue yakin Andrew juga bingung harus balas lagi. Sudah 15 menit sms balasan nggak juga gue terima. Mata gue tak henti-hentinya melotot ke layar HP. Tiba-tiba vibratornya bikin gue kaget setengah mati. Tertulis dengan jelas “My Beib” (Nama ini masih gue pakai buat penamaan mantan gue di HP… sajjjjaaaa… jangan curiga dulu, gue nggak pakai lagi buat panggilannya juga. Ternyata gue masih punya harga diri. Kalau di HP siapa yang ngelihat, coba? Ngeles…..).
“Iya, rasanya… tapi aku bingung…..”
“Ehm, kenapa bingung, datang aja, Bandung kan buat siapa aja, nggak ada yang ngelarang..”
“Iya sih…. Ya udah, aku akan datang ke Bandung”
Otak gue langsung berputar dengan pertanyaan besar. Otak gue serasa dikocok-kocok. Akhirnya gue beranikan diri balas sms buat menjawab pertanyaan gue
“Terus……?” balasan satu kata di SMS gue bikin
Andrew sensitif.
“Ya udah, kalau lagi bete”
“Aneh, sms kamu ngga nyambung. Siapa yang bete?”
“Ya udah, lupaian semua omonganku yang tadi…”
Gue merasa ngga enak, lebih tepatnya penasaran. Dengan semangat 2012 seperti mau kiamat tanpa malu gue menelpon Andrew. Dari suaranya yang gue dengar dari sebrang nada dasar yang dipakainya nada C mayor, nada ceria yang bikin gue terlena. Meski ragu, kudengar suara yang selama ini gue kangenin.
“Aku pengin ketemu kamu…..” lanjutnya.
“Ehmmmmm….Sorry bukannya aku nggak mau ketemu kamu, tapi aku harus menjaga perasaanku biar nggak terluka lagi… maaf ya…”
“Siapa yang mau bikin kamu terluka, hah?”
(“HAH” : satu kata yang benar-benar gue kenal sebagai pertanda Andrew marah….)
Ops…. Perasaan gue tiba-tiba berbalik arah. 360 derajat. Setan mana yang godain gue, bikin seakan gue ini pecundang. Mati suri mendengar rayuan gombal mantan pacar. Kali ini, gue benar-benar jadi bingung. Kenapa ketemu gue? Kan dia punya pacar baru di Bandung. Aneh…. Atau….. dia pikir, kali ini gue jadi makhluk yang makin manis aja kalau lagi patah hati. Asal bukan manisan jengkol aja. Sialan…. Kelakuan gue yang sok bego pun muncul dengan pertanyaan-pertanyaan konyol nan garing.
“Kok, ketemu aku…? Untuk?”
“Aku bingung, kenapa aku jadi seperti ini… Satu sisi aku sayang dia, satu sisi lagi aku ngerasa kehilangan kamu, aku stress tahu nggak?”
“Wajar, aku emang ngangenin sih…”
Masih saja gue sanggup meluncurkan kalimat itu, meski hati ini sakiiiit….. Tapi, bukan gue, kalau nggak sanggup menyimpan kepedihan hati. Gue pun masih sanggup bikin Andrew terpingkal-pingkal mendengar joke-joke gue yang sebenarnya maksa.
“Nggak kebalik?”
“Ya, itu sih ngga usah dibahas….Gue bakal sama
seperti yang kamu kenal dulu!”
Wow, rayuan gue maut juga ternyata. Sepertinya Andrew melambung tanpa sayap dan akhirnya klepek-klepek, tersanjung. Gue sih sebenarnya nggak yakin juga, kangen atau cuma penjajagan kestabilan jiwa aja. Sekali lagi gue bertanya ke Andrew, meyakinkan diri apakah Andrew masih juga mengharapkan dan sayang ama gue…..
“Bener, kamu datang buat aku?”
“Iya, bawel….!”
Kembali, setan-setan berkumpul mengelabuhi otak dan perasaan gue. Mereka nggak tahu malu panas-panasin gue buat ngelayanin rayuan gombal yang seharusnya bikin gue muntah. Sejak itu gue dan Andrew jadi intens komunikasi via sms dan telepon yang nggak tanggung-tanggung lamanya. Dua atau tiga jam serasa nggak cukup ngobrol. Rasanya kami dalam perjalanan di gurun berbulan-bulan dan ketemu oasis…. Wuih.. segarnya….
Jam 5 pagi ringer HP gue meraung-raung. Ops! Baru sadar, gue sama sekali belum tidur. Ada rasa kangen, bingung, seneng, berkecamuk dan rasa-rasa yang lain, seperti rasa gula-gula yang menawarkan sejuta rasa. Seharian gue nggak berhenti berpikir, apa yang bakal gue lakuin, gue kasih semangat buat kestabilan emosi gue. Naik turunnya perasaan gue ini ternyata menuntun otak gue ke arah nggak jelas.
Rasanya gue sudah sepakat dengan prinsip gue buat buang-buang jauh harapan gue terhadap Andrew. Selama ini, gue terlalu nyaman dengan kesendirian gue, nggak ada yang melarang gue apalagi nyetir gue… bebas lepas seperti burung camar, terserah mau terbang kemana. Tapi, kali ini, gue tergoda buat buang waktu untuk urusan yang nggak jelas…Seperti burung kehilangan sayap. Stuck. Huh…
Entah kenapa, akhirnya disepakati Andrew datang ke Bandung, dan minta jemput pula. “Disepakati “ sepeti kontrak kerja aja ya? Apalagi coba, gue mesti jemput pacar orang, mantan gue, buat ketemu gue. Yah, idep-idep gue juga demen lakuin, ya sudahlah… Meski berkelit kesana kemari buat nggak jemput, tapi dalam hati gue terdalam ini masih saja tersimpan keinginan agar Andrew tetap jadi bagian hidup gue (idih, kenapa jadi melo era 80-an alias nggak karuan gini?).
Dua hari kemudian, Andrew benar-benar datang. Bisa dibilang, gue lagi sibuk-sibuknya. Hari yang sama, teman-teman gue dari Luar Kota datang buat ketemu. Gue dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Kondisi memaksa gue untuk memilih antara teman dan mantan pacar. Gue yakin, temen gue bakal lebih ngerti dibanding mantan pacar (hehe, yang ini sih menghibur diri lagi). Dalam kebingungan, ringer “Triangle Love” di HP gue bunyi. “….everytime I think of you…..” pas banget lagunya.
“Hallo…, hai Na..”
“Hai…, lagi dimana?”
“Kantor…”
“Lu dimana nih?”
“Dari arah atas, mau nyusul ke kantor, tapi nggak
tahu jalan”
“Sorry, Na…. gue lagi ada janji, bisa nggak ketemu
malam?”
“Ok, ntar dikasih kabar lagi, ya.”
Leganya dan sekaligus teganya gue ini. Bener perkiraan gue, seorang teman sangat pengertian. Rasanya gue jadi nggak fair ama temen-teman gue. Gue egois. Bisa juga nggak…tergantung darimana kita menilai. Perasaan gue nan lembut ini terus menerus menghibur diri, membenarkan segala cara, menghalalkan segala cara buat pilih mantan kekasih. Angin kangen membawa gue bertemu mantan pacar.
Dari pertemuan gue ama Andrew, gue ambil kesimpulan bahwa hubungan kami 1. Nggak jelas 2. Tanpa Status 3. Membingungkan (istilah yang sama dan gue ulang-ulang). Kesimpulan yang memang belum tuntas dan tanpa pikiran yang matang tentunya. Dari analisa sekilas itu, akhirnya gue memutuskan untuk bicara serius (sumpah, selama hidup gue nggak pernah seserius ini….).
Gue pun pilih waktu yang tepat buat bicara dengan Andrew, dengan prolog yang seolah gue ini orang bijaksana sedunia, ikhlas seperti ajaran Tuhan, dan sabar bak Dalai Lama.
“Andrew, boleh nggak aku bicara?”
“Boleh, kok.. kenapa?”
“Sorry, aku harus bicara ini, buat kebaikan kita berdua. Tolong kita bicara dengan dewasa, tanpa ego, tanpa emosi, dan tanpa menghujat. Janji?”
“Okay..”
“Kalau aku lihat, kamu sedang dalam masalah kebingungan. Stuck dengan kepusingan dan kebimbanganmu tentang berbagai masalah yang aku nggak tahu persisnya apa.”
“Yups…”
“Aku mau bantu kamu buat selesaikan masalahmu satu per satu. Yang pertama, aku mohon ke kamu, pada saat kamu bermasalah dengan pacar kamu seperti saat ini, aku ingin kita nggak bertemu dulu, biar solusi yang kamu ambil lebih objektif. Kita masih boleh saling sms atau telepon.”
Pyeuh…. Leganya setelah ngeluarin kalimat-kalimat yang gue sendiri nggak tahu datang darimana. Rasanya sembelit gue hilang…. Tersiram masuk jamban meski nggak pakai tutup hidung. Nggak gue sangka, Andrew bakal menangis karena omongan gue. Dia merasa bersalah karena membuat gue sedih dan lain-lain. Wajar sih, penyesalan emang selalu datang kemudian. Tapi buat apa disesali. Gue aja cuek, ngapain mikir sesuatu yang nggak jelas? Bener, nggak? Gue mencoba mengerti kondisi itu, buat naikin pamor di mata Andrew….. dan benar juga.. jurus-jurus bijak gue keluarin.
“Bukan salah kamu kok, kalau kamu jatuh cinta lagi.
Itu cuma perputaran dunia.”
“Ya, tapi kenapa kamu nggak marah sama sekali ke aku. Aku makin merasa bersalah.”
“Buat apa marah? Marah nggak bikin kondisi kita balik seperti semula kok. Jadi ya… aku nikmati aja..”
Sok wise dan dewasa jawaban gue. Dalam hati, gue kasih semangat ke diri sendiri “…ayo… lu bisa hidup tanpa seekor lelaki yang nggak jelas maunya apa….”. Gue makin tertantang buat jadi diri gue sendiri. Andrew makin merasa bersalah mendengar pernyataan gue. Padahal, gue cuma menghibur diri. Nggak tahunya, ada yang terpukul dengan kata-kata gue. Syukur deh. Gara-gara reaksi yang muncul dari Andrew, gue jadi lupa ngebahas poin-poin ketegasan gue selanjutnya. Agak menyesal sih.
Lama kelamaan gue bingung juga, apa sih yang dimau seorang lelaki? Bukannya “komitmen” menjadi bagian tertinggi dalam hidup? Walah, berat amat ya urusannya. Komitmen mau jadi pacar, komitmen mau nikah, atau komitmen mau fun? Kalau Cuma mendewakan perasaan jatuh cinta, sampai kapanpun, sampai kakek nenek pun bakal jatuh cinta terus. Nah, kemana larinya sebuah tanggung jawab terhadap komitmen dengan segala risikonya? Apakah akan terus berlari karena nggak sanggup hadapi sebuah risiko? Alamaaaaaak… masih ada juga orang hidup yang stuck alias mentok “pusing”, “bingung”, “bimbang”… kemana action-action yang seharusnya selalu ada dalam lingkaran hidupnya?
Buat yang merasa punya masalah yang sama, pesan dari cerita ini sangat sederhana, “do what you have to do, don’t be stuck of something”. Itu memalukan….bener deh, kalau nggak percaya, boleh dicoba….#