“S E M U”


Setapak…
selangkah….
Kutempuh…
Kurengkuh….

Kepala penuh
Dada sesak
Berpeluh…

Hasrat menggebu
Menyala bagai api
Ternyata..
Aku diperbudak
Angan dan mimpi

Digelayuti kebingungan
Dibakar keyakinan
Dibelah godaan

Kendaliku rapuh
Mataku rabun
Pijakku karat

“KETIDAKPASTIAN”

Hanya itu yang kutemukan
Dan…
Kudapatkan
Darimu….

Semua semu….
Penuh ragu…#

“Sang Rembulan”


Kau bilang
Aku bak bulan purnama
Katamu….
Yang bersinar lembut
Lembayung
Dalam pekatnya malam temaram
Kelamnya suasana
Menyinari kegelapan
Menerangi keremangan
Tanpa membuat mata terpicing silau
Menghangatkan dingin malam
Selimuti kegundahan
Selimuti kegelisahan
Aku tak pernah membuat geram
Apalagi dendam

Kau bilang
Aku bak bulan purnama
Katamu
Dengan sinar kelembutanku
Buah belas kasih matahari padaku
Berbagi terang
Berbagi ceria
Berbagi kehangatan
Berbagi kasih
Temani manusia dalam gelap
Dan kelamnya malam.#

“Pancar Tenggelam”


Perubahan diri
Entah semerbak
Atau apa
Membuat lupa rasa
Senang
Atau sebaliknya

Bagai bidadari
Terjebak di telaga
Betapa senang
Tak terbayangkan
Terjerat bak idaman
Dalam impian
Semata…

Malam ini kian larut
Makin terasa
Tak terpejam mata

Saat fajar bertanda
Sang subuh datang
Burung hantu mendesis
Terdengar di atas bubungan

Angin pagi menyapa
Kurasakan rabaan angin
Mengusap hati
Tak berpelangi
Mengelus ilusi
Yang tak terjamah
Sebelumnya

Andaikan kutahu
Pancarmu kan tenggelam jua
Andaikan kutahu
Kesia-siaan itu
Tak mampukah kusibak
Mendung hitam penutupmu.#

“Matahariku”


Engkau matahariku
Sinarmu cemerlang
Di tengah teriknya siang
terang benderang alam
kau bersinar gemilang
Menyilaukan pandanganku

Kau buat gerah badan ini
Ronaku memerah
Sekujur tubuhku bersimbah peluh
Kau rengkuh layu sinar panasmu
Haus dahaga berkawan lelah
Payah menciutkan gairahku

Engkau matahariku
Tak kuasa ku menahan
Sinar cemerlangmu yang tak terhingga
Melimpahi sisi bumi
Dengan sinar kemewahan tiada batas.#

“Kutunggu Kerlip Itu”


Kuikuti sang mentari sembunyi
Kuikuti tanpa kedip mata
Kuikuti tanpa suara

Semakin terasa semua
Kini……
Di kandungan malam gelap pekat
Di sebrang sana

Kulihat kerlip di kejauhan
Lampu perahu
Aku tak tahu
Menyapaku atau mengejekku

Ingatanku membubung
Mengajak khayalku
Bermain canda

Ya….
Di sinilah
Kau lemparkan sebuah senyum
Kau hantarkan sejuta asa…
Dulu…..

Tak tahu, beda kini
Namun tak terasa
Semakin lekat
Antara rasa dan asa

Meskipun..
Bumi pun tahu
Kau tinggalkan aku

Cekikan angan
Cekikan khayal
Tak mampu kulepaskan

Tali kendaliku rapuh
Meski tak putus jua
Sabarku menuntun langkah ini
Mendudukkanku dalam penantian
Panjang…..

Pernahkah kau tahu
Aku akan setia
Menunggu kerlip lampu itu
Bersama cintaku.#

“Dekap Cinta Tulusmu”


Tak usah kau sesali
Langkahkan kakimu yang rapuh
Kepak sayapmu, jika kau mampu
Dunia masih menjanjikan banyak hal padamu

Urai dukamu
Luruhkan airmatamu
Lepas senyummu

Tak perlu kau mengutuk cinta
Meski kau sulit percaya
Tak perlu dendam
Biarkan dia luruh oleh kejujuran

Tepis amarah
Rangkai selaksa kebebasan jiwa
Jangan pedulikan tak ramahnya cinta
Dekap keluhuran dan cinta
Dalam dekapan bermakna

Tak perlu kecewa
Karena kau masih banyak pilihan.#

“STUCK OF CONFUSING”


Sore itu, gue asyik bermain dengan handphone (HP) silver tipis gue. HP yang gue beli saat seorang teman kepepet mau bayar kontrakan. (Ngga sengaja juga jadi malaikat yang ngulurin tangan buat sebuah keluarga.. aih.. aih…. Mulianya gue ini…). Jelas bukan HP yang keren, tapi cukup membuat orang perhatiin kombinasi telepon genggam dan tangan gue yang lentik (ealaaah, pede amat….). Gue memang bukan tipe wanita yang suka barang-barang mewah (ini sih salah satu cara gue nge-les nggak ada duit buat beli HP keren.. wahaha). Bukan pula tipe yang demen corang coreng muka alias dandan abis (nge-les lagi deh ngga ada duit buat beli alat-alat begituan). Gue cenderung menyukai kesederhanaan, bukan cuma barang… cara berpikir gue juga simple (walah!).

“Oi… ngapain sih senyum-senyum kaya Orgil?’”

Senyum gue yang manis ternyata nggak bisa menjawab pertanyaan kawan gue yang nggak pernah penting itu.
“Sialan, ditanya malah cengar cengir…!”

Gue nyelonong tanpa kata-kata… Jujur, gue juga nggak tahu apa yang bikin gue cengar cengir jail ini… Mungkin emang sudah gila atau lagi tergila-gila ama hal yang nggak penting juga? Sambil nunggu maghrib (bukan karena puasa sih), cuma cukup waktu sambil ngepul sesaat kelabuhi tenggorokan gue yang acapkali rindu asap yang satu ini.
Gue nggak tahu, kenapa mantan gue yang faktanya putusin gue yang manis ini gara-gara mabok dengan perempuan lain, tiba-tiba inget ama gue. Perpindahan jatuh cinta dari WANITA yang manis ke PEREMPUAN cantik… ada apa gerangan? Sengaja dibedakan istilahnya, biar punya alasan kuat buat putusin. Nggak ada hujan, nggak ada angin, tiba-tiba Andrew (nama mantan gue) mancing onar dengan sms-smsnya ke gue. Seneng juga sih, diperhatikan…. tapi gue udah terlanjur punya hasrat buat mati-matian nggak ada kesedihan lagi… Closed Case istilah kerennya…
Entah kenapa, masih saja gue layanin cowok mabok kaya Andrew. Gue sih nggak sakit hati..sama sekali diputusin, buat apa? Jatuh cinta kan hak siapapun dan boleh ke siapapun.. kebetulan aja, waktu dia jatuh cinta lagi, paaaaaas banget jadi cowok gue (berusaha bijak dan sabar, terima kenyataan bak Dalai Lama).
Otak jail gue tergoda buat tetap terus keep in touch dengan Andrew dan keluarga, dan……. tetap bermanis-manis muka. Sssst… salah.. bukan otak jail kok.. gue emang diciptakan Tuhan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan… So. Begini nih, jadinya….sengsara dinikmati…sedih dirangkul, senyum terus mengembang kesana kemari, meski hati merintih pedih tak terperi. Puitius juga nih, kata-kata….
Tut.. Tut… Tut… Andrew kirim sms lagi (Ringer zaman sekarang kan macem-macem.. boleh juga tuh yang seperti ini, biar semua minggir nyangka kereta)

“Rasanya aku mau ke Bandung…”

Begitu bunyi sms Andrew ke gue. Otak gue nggak mempan kena sambaran geledek itu. Aneh juga, pikir gue. Kenapa sms ke gue? Lama gue bingung harus balas apa, tapi bukan gue kalau nggak sanggup bersilat lidah soal beginian. Cincay….

“ Rasanya…..?”

Sms pun terkirim dengan singkat dan padat. Gue yakin Andrew juga bingung harus balas lagi. Sudah 15 menit sms balasan nggak juga gue terima. Mata gue tak henti-hentinya melotot ke layar HP. Tiba-tiba vibratornya bikin gue kaget setengah mati. Tertulis dengan jelas “My Beib” (Nama ini masih gue pakai buat penamaan mantan gue di HP… sajjjjaaaa… jangan curiga dulu, gue nggak pakai lagi buat panggilannya juga. Ternyata gue masih punya harga diri. Kalau di HP siapa yang ngelihat, coba? Ngeles…..).

“Iya, rasanya… tapi aku bingung…..”
“Ehm, kenapa bingung, datang aja, Bandung kan buat siapa aja, nggak ada yang ngelarang..”
“Iya sih…. Ya udah, aku akan datang ke Bandung”

Otak gue langsung berputar dengan pertanyaan besar. Otak gue serasa dikocok-kocok. Akhirnya gue beranikan diri balas sms buat menjawab pertanyaan gue

“Terus……?” balasan satu kata di SMS gue bikin
Andrew sensitif.
“Ya udah, kalau lagi bete”
“Aneh, sms kamu ngga nyambung. Siapa yang bete?”
“Ya udah, lupaian semua omonganku yang tadi…”

Gue merasa ngga enak, lebih tepatnya penasaran. Dengan semangat 2012 seperti mau kiamat tanpa malu gue menelpon Andrew. Dari suaranya yang gue dengar dari sebrang nada dasar yang dipakainya nada C mayor, nada ceria yang bikin gue terlena. Meski ragu, kudengar suara yang selama ini gue kangenin.
“Aku pengin ketemu kamu…..” lanjutnya.
“Ehmmmmm….Sorry bukannya aku nggak mau ketemu kamu, tapi aku harus menjaga perasaanku biar nggak terluka lagi… maaf ya…”
“Siapa yang mau bikin kamu terluka, hah?”
(“HAH” : satu kata yang benar-benar gue kenal sebagai pertanda Andrew marah….)

Ops…. Perasaan gue tiba-tiba berbalik arah. 360 derajat. Setan mana yang godain gue, bikin seakan gue ini pecundang. Mati suri mendengar rayuan gombal mantan pacar. Kali ini, gue benar-benar jadi bingung. Kenapa ketemu gue? Kan dia punya pacar baru di Bandung. Aneh…. Atau….. dia pikir, kali ini gue jadi makhluk yang makin manis aja kalau lagi patah hati. Asal bukan manisan jengkol aja. Sialan…. Kelakuan gue yang sok bego pun muncul dengan pertanyaan-pertanyaan konyol nan garing.

“Kok, ketemu aku…? Untuk?”
“Aku bingung, kenapa aku jadi seperti ini… Satu sisi aku sayang dia, satu sisi lagi aku ngerasa kehilangan kamu, aku stress tahu nggak?”
“Wajar, aku emang ngangenin sih…”

Masih saja gue sanggup meluncurkan kalimat itu, meski hati ini sakiiiit….. Tapi, bukan gue, kalau nggak sanggup menyimpan kepedihan hati. Gue pun masih sanggup bikin Andrew terpingkal-pingkal mendengar joke-joke gue yang sebenarnya maksa.

“Nggak kebalik?”
“Ya, itu sih ngga usah dibahas….Gue bakal sama
seperti yang kamu kenal dulu!”

Wow, rayuan gue maut juga ternyata. Sepertinya Andrew melambung tanpa sayap dan akhirnya klepek-klepek, tersanjung. Gue sih sebenarnya nggak yakin juga, kangen atau cuma penjajagan kestabilan jiwa aja. Sekali lagi gue bertanya ke Andrew, meyakinkan diri apakah Andrew masih juga mengharapkan dan sayang ama gue…..

“Bener, kamu datang buat aku?”
“Iya, bawel….!”

Kembali, setan-setan berkumpul mengelabuhi otak dan perasaan gue. Mereka nggak tahu malu panas-panasin gue buat ngelayanin rayuan gombal yang seharusnya bikin gue muntah. Sejak itu gue dan Andrew jadi intens komunikasi via sms dan telepon yang nggak tanggung-tanggung lamanya. Dua atau tiga jam serasa nggak cukup ngobrol. Rasanya kami dalam perjalanan di gurun berbulan-bulan dan ketemu oasis…. Wuih.. segarnya….
Jam 5 pagi ringer HP gue meraung-raung. Ops! Baru sadar, gue sama sekali belum tidur. Ada rasa kangen, bingung, seneng, berkecamuk dan rasa-rasa yang lain, seperti rasa gula-gula yang menawarkan sejuta rasa. Seharian gue nggak berhenti berpikir, apa yang bakal gue lakuin, gue kasih semangat buat kestabilan emosi gue. Naik turunnya perasaan gue ini ternyata menuntun otak gue ke arah nggak jelas.
Rasanya gue sudah sepakat dengan prinsip gue buat buang-buang jauh harapan gue terhadap Andrew. Selama ini, gue terlalu nyaman dengan kesendirian gue, nggak ada yang melarang gue apalagi nyetir gue… bebas lepas seperti burung camar, terserah mau terbang kemana. Tapi, kali ini, gue tergoda buat buang waktu untuk urusan yang nggak jelas…Seperti burung kehilangan sayap. Stuck. Huh…
Entah kenapa, akhirnya disepakati Andrew datang ke Bandung, dan minta jemput pula. “Disepakati “ sepeti kontrak kerja aja ya? Apalagi coba, gue mesti jemput pacar orang, mantan gue, buat ketemu gue. Yah, idep-idep gue juga demen lakuin, ya sudahlah… Meski berkelit kesana kemari buat nggak jemput, tapi dalam hati gue terdalam ini masih saja tersimpan keinginan agar Andrew tetap jadi bagian hidup gue (idih, kenapa jadi melo era 80-an alias nggak karuan gini?).
Dua hari kemudian, Andrew benar-benar datang. Bisa dibilang, gue lagi sibuk-sibuknya. Hari yang sama, teman-teman gue dari Luar Kota datang buat ketemu. Gue dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Kondisi memaksa gue untuk memilih antara teman dan mantan pacar. Gue yakin, temen gue bakal lebih ngerti dibanding mantan pacar (hehe, yang ini sih menghibur diri lagi). Dalam kebingungan, ringer “Triangle Love” di HP gue bunyi. “….everytime I think of you…..” pas banget lagunya.

“Hallo…, hai Na..”
“Hai…, lagi dimana?”
“Kantor…”
“Lu dimana nih?”
“Dari arah atas, mau nyusul ke kantor, tapi nggak
tahu jalan”
“Sorry, Na…. gue lagi ada janji, bisa nggak ketemu
malam?”
“Ok, ntar dikasih kabar lagi, ya.”

Leganya dan sekaligus teganya gue ini. Bener perkiraan gue, seorang teman sangat pengertian. Rasanya gue jadi nggak fair ama temen-teman gue. Gue egois. Bisa juga nggak…tergantung darimana kita menilai. Perasaan gue nan lembut ini terus menerus menghibur diri, membenarkan segala cara, menghalalkan segala cara buat pilih mantan kekasih. Angin kangen membawa gue bertemu mantan pacar.
Dari pertemuan gue ama Andrew, gue ambil kesimpulan bahwa hubungan kami 1. Nggak jelas 2. Tanpa Status 3. Membingungkan (istilah yang sama dan gue ulang-ulang). Kesimpulan yang memang belum tuntas dan tanpa pikiran yang matang tentunya. Dari analisa sekilas itu, akhirnya gue memutuskan untuk bicara serius (sumpah, selama hidup gue nggak pernah seserius ini….).
Gue pun pilih waktu yang tepat buat bicara dengan Andrew, dengan prolog yang seolah gue ini orang bijaksana sedunia, ikhlas seperti ajaran Tuhan, dan sabar bak Dalai Lama.

“Andrew, boleh nggak aku bicara?”
“Boleh, kok.. kenapa?”
“Sorry, aku harus bicara ini, buat kebaikan kita berdua. Tolong kita bicara dengan dewasa, tanpa ego, tanpa emosi, dan tanpa menghujat. Janji?”
“Okay..”
“Kalau aku lihat, kamu sedang dalam masalah kebingungan. Stuck dengan kepusingan dan kebimbanganmu tentang berbagai masalah yang aku nggak tahu persisnya apa.”
“Yups…”
“Aku mau bantu kamu buat selesaikan masalahmu satu per satu. Yang pertama, aku mohon ke kamu, pada saat kamu bermasalah dengan pacar kamu seperti saat ini, aku ingin kita nggak bertemu dulu, biar solusi yang kamu ambil lebih objektif. Kita masih boleh saling sms atau telepon.”

Pyeuh…. Leganya setelah ngeluarin kalimat-kalimat yang gue sendiri nggak tahu datang darimana. Rasanya sembelit gue hilang…. Tersiram masuk jamban meski nggak pakai tutup hidung. Nggak gue sangka, Andrew bakal menangis karena omongan gue. Dia merasa bersalah karena membuat gue sedih dan lain-lain. Wajar sih, penyesalan emang selalu datang kemudian. Tapi buat apa disesali. Gue aja cuek, ngapain mikir sesuatu yang nggak jelas? Bener, nggak? Gue mencoba mengerti kondisi itu, buat naikin pamor di mata Andrew….. dan benar juga.. jurus-jurus bijak gue keluarin.

“Bukan salah kamu kok, kalau kamu jatuh cinta lagi.
Itu cuma perputaran dunia.”
“Ya, tapi kenapa kamu nggak marah sama sekali ke aku. Aku makin merasa bersalah.”
“Buat apa marah? Marah nggak bikin kondisi kita balik seperti semula kok. Jadi ya… aku nikmati aja..”

Sok wise dan dewasa jawaban gue. Dalam hati, gue kasih semangat ke diri sendiri “…ayo… lu bisa hidup tanpa seekor lelaki yang nggak jelas maunya apa….”. Gue makin tertantang buat jadi diri gue sendiri. Andrew makin merasa bersalah mendengar pernyataan gue. Padahal, gue cuma menghibur diri. Nggak tahunya, ada yang terpukul dengan kata-kata gue. Syukur deh. Gara-gara reaksi yang muncul dari Andrew, gue jadi lupa ngebahas poin-poin ketegasan gue selanjutnya. Agak menyesal sih.
Lama kelamaan gue bingung juga, apa sih yang dimau seorang lelaki? Bukannya “komitmen” menjadi bagian tertinggi dalam hidup? Walah, berat amat ya urusannya. Komitmen mau jadi pacar, komitmen mau nikah, atau komitmen mau fun? Kalau Cuma mendewakan perasaan jatuh cinta, sampai kapanpun, sampai kakek nenek pun bakal jatuh cinta terus. Nah, kemana larinya sebuah tanggung jawab terhadap komitmen dengan segala risikonya? Apakah akan terus berlari karena nggak sanggup hadapi sebuah risiko? Alamaaaaaak… masih ada juga orang hidup yang stuck alias mentok “pusing”, “bingung”, “bimbang”… kemana action-action yang seharusnya selalu ada dalam lingkaran hidupnya?
Buat yang merasa punya masalah yang sama, pesan dari cerita ini sangat sederhana, “do what you have to do, don’t be stuck of something”. Itu memalukan….bener deh, kalau nggak percaya, boleh dicoba….#

“PERSPEKTIF POSITIF”


Cerita ini kupersembahkan dalam esensi penjajakan kestabilan jiwa…

Malam itu, aku merasa gundah, segundah hatiku yang tidak berpenghuni. Ruang kosong ini masih menunggu seseorang yang aku yakin akan kembali. Kepergiannya hanya akan sesaat, seperti seorang kawan menunggu cinta sejatinya yang masih berkeliaran. Seakan sebuah buku yang sudah dibilang “sah” hanya dianggap sebagai onggokan tulisan tanpa makna.
Tubuhku melemah, karena harus menikmati sakit yang tidak jelas asal usulnya. Dalam kerapuhan ini, sebuah kondisi memaksaku buat memahami segala seluk beluk egoisme cinta. Ikhlas… satu kata simple yang tak mudah aku turuti. Dalam perjuangan mencapai titik keikhlasan, godaan muncul bertubi-tubi. Tiba-tiba, terasa kangen yang menyesakkan. Terpaksa kukirim pesan tentang rasa ini yang seharusnya tidak perlu aku lakukan. Wah keberanian yang nekat, mengirimkan sinyal cinta kepada kekasih orang lain.
Sebagai sesama perempuan aku merasa sangat bersalah terhadap perempuan ini. Aku tidak mau menerima perlakuan yang tidak baik dari perempuan lain, jadi aku sendiri tak mungkin melakukannya terhadap perempuan lain. Memang, aku tak kenal perempuan itu, seseorang yang menyebabkan aku kehilangan kekasihku. Kasarnya impas. Tapi bukan itu tujuanku. Aku hanya sekedar meruruti kehendak rasa untuk aku sampaikan kepada seseorang yang aku kasihi.
Nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak sanggup mengembalikannya lagi menjadi nasi. Aku mencoba memberi bumbu yang enak buat bubur yang sudah lembek itu. Tapi enak buat siapa? Aku juga tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dalam kebimbangan yang rapuh, tiba-tiba terdengar ringer special, khusus panggilan dari Prabu. Jantungku berdegup kencang, meski badanku tak sanggup mendukung kecepatannya.

“Hallo….!” Suaraku tersekat, seakan tidak keluar
dari tenggorokanku.
“Kamu dimana?”
Prabu bertanya dengan nada suara yang khas. Suara yang selama ini membuatku kangen karena kelemah-lembutannya.

“Di rumah……..” jawabku dengan suara tertahan.
“Gimana, sudah sehat?” Prabu bertanya penuh
perhatian
“Lumayan, tinggal lemes aja.” Aku berusaha
menutupi perasaanku yang sebenarnya.
“Aku ke rumah ya? Aku lagi di Bandung”

Aku seperti tersambar petir, meskipun tidak terbakar. Terus terang aku bingung harus merespon seperti apa. Aku hanya sanggup terdiam dan membisu. Ada rasa tidak rela, karena Prabu ada di Bandung bukan untuk aku, ada cemburu yang tidak perlu dan rasa kangen yang menggebu, campur aduk tidak jelas, tumplek blek seperti onggokan sampah bau yang bikin aku muntah.
Satu kata “hallo” terdengar di telingaku, menyadarkanku bahwa ada lawan bicara di sinyal yang sama. Perasaan sedihku menjadi-jadi, aku seperti orang paling sengsara, menderita dan manusia paling tidak bahagia di dunia ini, seolah hanya aku yang punya masalah di dunia ini. Perasaanku berkecamuk, mencapai garis terbawah ketidakmampuan kontrolku.
Dalam kesedihan ini, aku tidak sanggup lagi bercerita kepada siapapun tentang situasi batinku yang sebenarnya. Kondisi batin yang jujur harus aku akui, bahwa aku tertekan dan merasa diperlakukan tidak adil. Aku merasa tidak perlu untuk cerita, karena bagaimanapun aku tetap harus berani menghadapi sekaligus melewati bagian kecil dari hidupku ini tanpa harus melambai. Bisa dibilang, dari lingkaran kepentingan yang aku pikirkan, jika diibaratkan pai, masalah ini hanya mendapat porsi yang seharusnya hanya satu kali telan. Artinya, tidak perlu terbatuk-batuk untuk sekali telan, meskipun ada risiko tersedak. Aku hanya perlu waktu sekejap dan kehati-hatian saja.
Terkadang, aku meminjam telinga seorang kawan untuk mendengarkan tangisan yang tak berujung. Kawanku serasa mendapat hiburan, karena situasi yang aku hadapi. Dia tidak melihat adanya kemarahan dan kesedihan di keseharianku, dia tetap melihat ketegaran dan keceriaan yang sama di wajahku. Aku masih sanggup bersenandung. Aku tidak sadar bahwa dalam fisikku yang sedang lemah, otakku tidak sanggup menggerakkan motorik supportif yang aku mau. Kegundahanku makin dalam, tapi sisi lainku menuntutku untuk bertemu dengan Prabu.
Kami sepakat untuk bertemu di tempat makan yang belum pernah kami kunjungi bersama ketika kami berpacaran. Pertimbanganku sederhana, aku harus ke tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah karena kondisi fisikku belum memungkinkan untuk itu. Pertimbangan yang lain, aku tidak sanggup datang ke penginapan Prabu, karena itu akan membawaku mimpi buruk selama hayat. Belum lagi, kalau ternyata aku harus kepergok oleh pacar barunya, aku takut tidak bisa kontrol emosi. Memalukan, kalau aku harus adu mulut dengan sesama perempuan memperebutkan seorang lelaki. Tidak akan pernah kulakukan itu.
Aku datang lebih awal dibanding Prabu. Sambil menunggunya, aku coba menyibukkan diri dengan membaca buku-buku gokil yang selama sakit sudah menjadi santapan setiap hari. Setengah jam kemudian, Prabu nongol tanpa kusadari, karena aku terlalu asyik menghibur diri dengan bacaan itu. Dia datang tanpa mengulurkan salam, apalagi sebuah pelukan. Kami hanya saling memandang, senyum kami tertahan, kami asyik dengan pikiran masing-masing, entah apa. Sambil memesan makanan, kami pun masih belum membuka pembicaraan apapun. Sekalinya bicara, terasa begitu aneh, seperti dua orang asing yang sedang menunggu bis di halte. Tidak sengaja, aku memandang Prabu dengan pandangan kosong dan bengong. Prabu pun kikuk dengan pandangan itu, dan akhirnya Prabu pun bicara juga.

“Jangan pandang aku seperti itu, maafin aku, aku
salah.”
“Nggak apa-apa, kok.. kamu nggak salah.”
“Kamu boleh marah ke aku, aku rela kamu gebukin
aku.”
“Buat apa, aku ga marah kok.”
“Aku ke sini siap untuk dimaki-maki.”
“Aku nggak akan lakuin itu, aku sayang kamu, aku
nggak mungkin sakitin kamu.”

Prabu pun serba salah, kerena ternyata aku tidak marah sama sekali, apalagi caci maki. Aku mencoba menampar pipiku sendiri untuk sadar bahwa aku harus mengerti bahwa lelaki di depan aku ini, yang masih dengan kasih memelukku, sudah bukan kekasihku lagi. Melihat sikapku itu, Prabu marah.

“Kalau kamu bakal sakitin diri sendiri, aku nggak
bakalan mau ketemu kamu”
“Aku nggak sanggup sakitin kamu, aku harus
menyadarkan diriku sendiri”

Airmataku pun tak terbendung lagi, meski tidak berteriak seperti orang kesetanan, air mataku melimpah ruah. Dan, pertanyaanku pun meluncur begitu saja.
“Kenapa kamu tega lakuin ini semua?”
“Aku bingung, kenapa aku harus jatuh cinta dengan dua orang dalam waktu yang bersamaan?”
“Terus, cincin ini?” kataku memelas.

Prabu tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Kami terdiam sesaat. Tak lama kemudian, Prabu bercerita tanpa dosa tentang hubungannya dengan pacar barunya. Aku tertantang untuk sanggup mendengarkan hal-hal yang mencabik-cabik hatiku. Prabu harus tahu bahwa dia tidak pantas perlakukan aku seperti itu, tak pantas membuatku sedih, karena aku tidak pernah sakiti dia, sedikit pun. Kami memang lebih banyak terdiam, daripada berbincang. Aku menyandarkan kepalaku di pangkuan Prabu, sementara Prabu autis dengan BB-nya, sambil sesekali memelukku. Terdengar, Prabu sedang menjawab telepon
“Hallo, yaa… di hotel…” (aku berasumsi
pertanyaannya adalah dimana)
“Ada orang lewat, makanya ramai.”
“Okay, daaag, love you…”
Dari jawaban itu, aku tahu siapa yang menelpon, meskipun faktanya Prabu berbohong. Kusadari, aku salah satu perempuan yang mendapat kebohongan yang sama, seperti perempuan yang menelpon Prabu.
Selama kurang lebih empat jam kami bersama, aku menjadi mengerti sebuah karakter yang kupikir aku sudah sangat kenal (ternyata tidak), bahkan aku menjadi lebih memahami karakterku sendiri. Ketika aku bertanya ke Prabu mengenai pacar barunya, Prabu menyamarkan nama perempuan itu. Entah ada kekuatan darimana, tiba-tiba aku menyebut nama perempuan itu. Prabu kaget. Aku seperti mendapat petunjuk. Aku pun diberi kekuatan untuk memberikan masukan-masukan tentang masalah-masalah Prabu dan pacarnya secara objektif. Aku sanggup kontrol emosi dan kemarahan yang seharusnya sudah kuluapkan dengan berbagai macam cacian dan kata-kata tidak pantas. Aku berhasil melaluinya dengan baik, tanpa harus mengeluarkan kata-kata yang selama ini tidak pernah aku pakai.
Prabu memintaku agar aku bisa dijadikan kakaknya. Aku tidak menjawab, karena yang muncul saat itu hanya satu kata “HERAN”. Pada saat, aku harus dipapah dengan kerapuhanku, aku harus mendengar semua curhat dan permintaan yang seharusnya tidak aku dengar dalam waktu yang sesingkat itu.
Aku coba menyelami diriku sendiri, apakah wajahku ini cukup untuk meyakinkan orang bahwa aku punya karakter yang kuat? Atau Prabu salah satu orang yang sangat tega, sehingga tidak bisa melihat lagi perasaanku, perempuan tulen, yang baru saja dia tinggalkan untuk mengejar kesenangan pribadi ini, masih punya perasaan dan hati. Ah, ternyata aku pun tidak sanggup menjawab pertanyaan itu. Yang jelas, aku merasa diuntungkan dengan kondisi itu.
Aku terpaksa menjadi orang yang cukup kuat menghadapi semua itu, aku sanggup menangkap sinyal-sinyal yang tidak bagus yang bakal merugikan aku, dan pada akhirnya aku mulai dapat bersyukur terhadap pengalaman ini. Aku tidak lari dari kesedihan dan kepedihan, tapi mencoba mendalami dan menyelaminya untuk mengambil perspektif positif dari situasi ini.
Jika kebanyakan orang akan menutup komunikasi dengan mantan kekasih, aku tetap keep in touch. Aku tetap berusaha berkomunikasi setiap hari dengan senyaman mungkin. Buatku, hanya diri sendiri yang bisa merubah banyak hal, mau dibawa positif atau negatif, semua tergantung diri sendiri. Di luar itu hanya aku anggap sebagai asesoris. Diri sendirilah yang dapat mengukur kekuatan batin. Foto-foto yang menghiasi sudut-sudut kebahagianku semasa bersama Prabu masih pada tempatnya. Tidak ada yang berubah, keculai cara berpikirku.
Mungkin orang lain akan berpikir bahwa aku sinting dengan kelakuanku itu. Tapi bagiku, tidak. Ini salah satu caraku untuk menerima sebuah kenyataan. Salah satu tolok ukur untuk mengakui bahwa batinku settle, aku tidak perlu menangis lagi ketika melihat foto Prabu. Semua SMS masih tersimpan tanpa aku hapus. Aku masih sanggup bercanda dan tertawa dengan Prabu tanpa setetes pun rasa dendam.
Pada saat dua minggu kepergian Prabu, aku masih tak segan-segan keluarkan airmata, tapi pada saat tiga minggu terlewat aku sudah sanggup mentertawakan diri sendiri, kalau sampai airmata itu keluar. Aku merasa sangat sayang dan tidak rela meneteskan airmata lagi. Jalanku harus tetap ke depan, meski benar aku pakai kaca spion untuk melihat ke belakang. Terkadang tidak sengaja gigi empat aku pakai hanya untuk parkir sebentar, tapi aku tetap harus mela njutkan perjalanan.
Motorik otakku menjadi terlatih untuk tetap bergerak maju. Pada saat Prabu ternyata terbangun dari kesalahannya sendiri, atau Prabu terpeleset tak sengaja oleh kerikil-kerikil, dia terpaksa harus mengejar langkahku dengan kekuatan penuh, karena aku tidak akan berhenti untuk sesuatu yang tidak perlu. Kalau dia sanggup melakukan itu, harapan untuk melangkah seiring akan tetap ada. Kalau tidak, kami pun harus berjalan masing-masing. Itu kenyataan yang harus dihadapi selanjutnya.#

Pesan :
Tak perlu enggan mentertawakan diri sendiri, hingga tertuntun menuju proses kedewasaan berpikir

“KESAKTIAN CINTA”


Cerita ini kupersembahkan buat :
kawan-kawan yang mempunyai kegetegaran dalam menghadapi uniknya cinta

Sore itu, aku bersama seorang kawan, janji bertemu yang rasanya sudah terlalu lama baru bisa direalisasikan. Bogie baru mempunayi waktu senggang setelah pulang kantor, aku pun demikian. Sudah tiga tahun kami tidak bertemu muka. Kami hanya bisa bicara lewat sms atau telepon saja. Kali ini aku dan Bogie menentukan waktu bertemu di hari Sabtu, kebetulan aku dan Bogie libur. Kami sengaja memilih tempat yang buat kami memungkinkan untuk ngobrol, yang tenang dan nyaman. Tidak mudah memilih tempat yang kami inginkan, karena menjamurnya mall-mall yang berlomba menawarkan makanan yang up to date dan tempat yang bisa berjam-jam nongkrong seperti tempat sendiri.
Setelah berkali-kali menyesuaikan jadwal, kami menemukan tempat yang pas buat bernostalgia. Sebuah tempat yang luas, rimbun dengan pohon-pohon pinus dan lengkap dengan kolam ikan sekitar saung. Sebulan yang lalu, ketika aku datang ke rumah makan Sunda ini, aku belum merasakan kenyamanan seperti sekarang. Rupanya pemilik rumah makan baru saja selesai merenovasi tempat yang tadinya biasa saja menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan.
Seperti biasa, aku datang lebih dulu dari Bogie, karena rumahku hanya satu kilo dari tempat makan. Sambil menunggu Bogie, tidak sengaja kulihat rona jingga di ufuk Barat. Warnanya yang merona serasa menawarkan keindahan yang harus aku syukuri. Baru kali ini, spontan aku berucap “Subhanallah”, begitu indahnya Tuhan menciptakan ini semua, yang acapkali aku lupa untuk mnesyukurinya.. Jingganya lembayung memberikan pengalaman batin tersendiri. Aku malu, karena sering melupakan kebesaran-Nya.
Ketika aku asyik dengan pikiran indahku, ada dua telapak tangan kekar yang menutup kedua mataku dari belakang.

“Bogie, jangan berulah deh…aku tahu ini kamu.” Aku
bicara dengan keyakinan yang tinggi. Bogie tidak
melepaskan tangannya juga.
“Hey, kalau mau ngerjain, ganti parfummu.. kamu
masih pakai parfum yang sama seperti tiga tahun
lalu…” Aku pun menambahkan kata-kata yang
membuat Bogie melepaskan tangannya.
“Hahaha….., masih inget aja..” Suaranya yang khas
akhirnya keluar juga.
“Kok, aku nggak lihat kamu masuk, parkir dimana
emang?” Aku bertanya heran.
“Nggak parkir.. tadi terbang, pinjem baju
Superman.” Bogie berusaha bercanda garing. Kami
pun tertawa.

Aku dan Bogie emang teman lama saat SMA di sebuh kota kecil di Jawa Tengah. Kami bersahabat dan selalu bersama seperti mata dan telinga dalam satu muka, tidak pernah terpisahkan. Berpacaran pun lebih sering double date. Bogie dekat dengan keluargaku dan sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Begitu pun aku, aku memanggil orangtua Bogie “bapak” dan “ibu”, seperti panggilan Bogie kepada orangtuanya.
Lulus SMA, kami masih sering bertemu meskipun kuliah kami di kota yang berbeda. Aku di Solo dan Bogie di Bandung. Setelah lulus kuliah, Bogie bekerja di perusahaan swasta di Bandung dan Bogie mencapai kesuksesannya ketika membuka usaha sendiri, sedangkan aku ketika lulus kuliah aku menjadi Asisten Redaktur Pelaksana di beberapa Inhouse Magazine yang kebetulan di Bandung. Kami pun bertemu lagi.

“Hei, apa kabar, akhirnya ketemu juga..” kata Bogie
memecah kesunyian.
“Kamu terlalu sibuk, sih.. makanya susah ketemu.”
Aku mencoba membetulkan dudukku berhadapan
dengan Bogie.

Pelayan pun datang menanyakan pesanan. Dari dulu aku dan Bogie mempunyai kesukaan yang sama dalam memilih makanan, Ikan goreng tanpa kecap dan sambal terasi, lengkap dengan lalap. Minuman kami pun sama, es teh tawar, dan satu lagi kerupuk kampung. Rasanya benar-benar nostalgia, menyantap makanan seperti masa lalu, dibumbui canda tawa mengenang memori yang sudah lama terpendam. Perbedaan yang aku lihat sekarang, Bogie cenderung agak kurus dan nampak kelelahan.

“Gimana keluarga?’ Tanya Bogie penuh perhatian
“Baik, alhamdulillah…, gimana Bapak Ibu?” tanyaku
balik.
“Baik juga, Ibu sudah tidak ada.” Wajah Bogie
nampak sedih. Yang aku tahu, Bogie sangat dekat
dengan ibunya.
“I am sorry, kapan? kenapa aku nggak dikasih
tahu?” Ada kekecewaan yang sangat karena tidak
ada kabar apapun mengenai ini.
“Setahun yang lalu, sakit. Saat itu aku dan keluarga
shock berat sampai nggak kepikir buat kasih tahu
ke kamu, maafin ya. Ibu kena stroke dan belum
nyampai RS ibu sudah tidak ada.”

Aku melihat kesedihan yang luar biasa di mata Bogie. Ibu memang teladan bagi Bogie dan adiknya, meski keras Ibu memberi contoh sebagai sosok yang penuh tanggung jawab dan tegar. Sifat itu diturunkannya kepada Bogie. Spontan tanganku mengelus punggung Bogie dan berkata:

“Sabar dan ikhlas ya, Tuhan lebih tahu rencana yang
lebih baik dari ummatnya.”
“Ya, kami ikhlas kok, cuma terkadang aku merasa
ada sesuatu yang aku tidak turuti kata-kata Ibu.
Mungkin kalau aku turuti kata-kata ibu aku nggak
perlu alami hal-hal yang nggak baik.”

Aku menatap Bogie penuh ketidaktahuan. Bogie tersenyum getir. Sepertinya Bogie langsung menyadari suasana yang agak kurang menyenangkan.

“Ah, sudahlah… aku terlalu hanyut..” katanya
kemudian.
“Nggak apa-apa kok, ini kan cerita yang selama ini
aku belum pernah dengar.” Kataku mencoba
membuat Bogie tidak merasa bersalah terhadap
situasi ini.

Pelayan pun membawa pesanan kami. Tercium harum yang sangat membuat cacing di perutku meronta-ronta, berlomba-lomba berebut makan ikan goreng yang bergaya pesenam Rusia, badannya meliuk, ekor dan kepalanya ke atas. Aku jadi ingat si Nimo, ikan Oscar di akuarium rumahku. Ikan yang dipelihara dari kecil dan sesekali meloncat ke karpet karena kelaparan. Ada sedikit perasaan bersalah menyantap ikan ini. Kali ini, perasaan ini terpaksa aku abaikan, takut merusak suasana nostalgia bersama Bogie.

“Wow…. Sepertinya enak nih.” Wajah ceria Bogie
pun persis seperti Bogie yang aku kenal dulu.

Kami pun akhirnya makan dengan lahap tanpa menyisakan sedikit pun buat ikan di kolam sekitar saung. Bukan cuma kenyang perut tapi juga kenyang dengan candaan kami yang tidak berubah sedikit pun. Menggali cerita-cerita lalu yang indah dan tak terlupakan. Ada sebuah rahasia besar yang pernah kami sesali saat itu. Ketika SMA kami saling tertarik tapi tidak berani melangkah untuk berpacaran gara-gara komitmen yang kami buat sendiri untuk menganggap saudara dan sahabat. Kami selalu menekan perasaan masing-masing, memegang teguh komitmen yang entah sesuatu yang benar atau egoisme yang tidak perlu.

“How is your Love Life?” Bogie tiba-tiba
menanyakan sesuatu yang tidak pernah kuharapkan.
“Pertanyaan apaan sih? Aku udah capek.” Jawabku
sekenanya.
“Kok? Kenapa?” Bogie menatapku penasaran.
“Ah, sudahlah…. Aku baru tahu kalau untuk urusan
ini kita tak hanya cukup menjadi orang baik saja.”
Jawabku datar, ada sedikit ternguak rasa sakit hati
yang lama terpendam.
“Masa sih? Setiap orang kan berbeda.” Katanya
mencoba meyakinkanku.
“Mungkin… tapi aku nggak percaya lagi tuh..! Kamu
sendiri gimana?” aku balik bertanya sambil
bercanda.
“Lho, kok malah balik nanya?” Bogie melirikku.
“Kamu dulu dong, cerita.” Pintaku memaksa.
“Aku belum kepikir lagi, sejak cerai.” Spontan aku
tersedak es teh tawar yang aku minum. Kaget
setengah mati. Aku benar-benar tidak tahu kalau
Bogie sudah menikah. Mukaku merah padam karena
tidak tahan terbatuk-batuk karena es teh sialan ini.
Bogie memijat-mijat leherku sampai batukku reda.
“Kamu jahat.. moment-moment penting di
keluargamu sama sekali nggak kasih kabar ke aku.
Masa kamu nikah pun aku nggak dikasih kabar.”
Kataku sedih.
“Mmmmm….. saat itu aku yakin kamu nggak akan
setuju dengan wanita yang aku nikahi, seperti
halnya ibuku.” Bogie mencoba menjelaskan. Aku
langsung tahu siapa wanita yang Bogie nikahi.
Suaraku tiba-tiba hilang entah kemana, aku tidak
bisa lagi komentar sepatah kata pun.
“Ooo…….” Hanya itu yang dapat keluar dari mulutku.

Kami pun tidak sengaja langsung terdiam, dengan pikiran masing-masing. Aku tidak menyesalkan kejadian itu. Selama ini aku selalu menghargai keputusan Bogie dalam hal apapun. Seperti halnya, ketika Ibu menganjurkan kami untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, kami menolak dengan keras. Kami membanggakan komitmen kami untuk tetap menjadi saudara selamanya, sehingga Ibu pun mengalah. Kekuatan cinta di masa lalu tak sanggup membangkitkan lagi rasa cintaku sekarang, seakan rasa ini telah terkubur dalam-dalam, dengan kokohnya batu nisan yang bertuliskan KOMITMEN. Aku memberanikan diri bertanya kenapa Bogie bercerai. Suaraku belum juga keluar, Bogie sudah meneruskan ceritanya.
“Mantan istriku menyalahkan aku karena dia
keguguran. Aku dianggap penyebab keretakan
kami.”
“Kok, emang kenapa?” aku bertanya heran.
“Ah, sudahlah…. Secara mendasar aku nggak tahu
apa masalahnya, tapi akhirnya aku ketahui dia
menjalin hubungan dengan lelaki lain.” Bogie
menghela napas panjang.
“Lelaki itu kebetulan temanku juga, yang selama ini
sering datang ke rumah. Mungkin aku terlalu sibuk
dengan usahaku yang sedang aku bangun. Mungkin
juga bukan jodoh.” Bogie berkata seolah menghibur
dirinya sendiri. Aku tidak tahu harus bereaksi
seperti apa, tapi aku merasa iba dengan sahabatku
ini.

Terdengar lagu Ecute : “Tak Setia”. ….. Tapi sayang kau tak setia… terlalu mudah kau jatuh cinta….” Lagu ini seperti mewakili perasaan Bogie tentang mantan istrinya. Aku dan Bogie pun saling pandang dan tertawa, tidak sengaja memikirkan hal yang sama tentang lagu yang diperdengarkan oleh Live Music di Rumah makan itu. Kami pun tak sengaja sepakat untuk mengerti semua kenyataan yang harus kami hadapi masing-masing. Mungkin juga usia kami yang bukan remaja lagi, hingga spontan kedewasaan kami muncul dengan sendirinya.

“Yah… mungkin ini pengalaman yang kita tidak bisa
lupakan, tapi mau apa lagi, that’s the way it is. Mau
nggak mau kita harus hadapi dan terima kenyataan.”
Hanya kalimat itu yang sanggup aku keluarkan.
“Yups, aku sangat mengerti kok semua situasi yang
aku hadapi.” Jawab Bogie meyakinkan diri.
“Kalau terlalu hanyut juga nggak akan ada untungnya
kan? Kita harus terus melangkah. Kalu terus
melihat ke belakang, bisa-bisa nabrak.” Kataku
sambil bercanda. Bogie pun tertawa lepas.
“Ada-ada aja..” sambungnya.
“Ibaratnya, kita bisa sebut sebagai Kesaktian
cinta.” Kataku menguatkan diri sendiri. Bogie tidak
tahu apa yang aku alami selama ini, karena sudah
lama aku tidak bercerita apapun ke Bogie tentang
kehidupanku.
“Maksudnya apa tuh?” Tanya Bogie ingin tahu.
“Maksudnya, setiap kali kita berhadapan dengan
“cinta” ada aja yang tidak terprediksikan.
Terkadang bikin kita terbang tanpa sayap, kadang
bisa bernapas di dalam air atau bahkan seperti bisa
tersambar halilintar tanpa mati.” Lanjutku.
“Emang, bisa jadi lebih pintar atau bisa juga jadi
buta, tuli dan bego.” Sambung Bogie berapi-api.
“Yang tadinya ketakutan bisa jadi demen setengah
mati, yang tadinya benci bisa jadi cinta mati,
wahaha.” Kali ini aku pun tertawa lepas.

Aku dan Bogie pun asyik memperbincangkan kesaktian cinta yang notabene banyak makan korban tanpa pandang usia. Obrolan yang terkadang menyakitkan, ternyata dapat kami jadikan obrolan yang menggelikan.
Bertemu teman lama ini membawaku untuk lebih dapat membuka kembali rasa bersyukurku, yang ternyata dari banyak hal memang aku harus syukuri kehidupanku. Masih banyak masalah yang lebih berat yang dihadapi orang lain dibandingkan masalahku. Hal ini yang lupa aku sadari. Benar jika kita harus menatap dunia sebagai Big Picture yang indah, bukan hanya memandang dunia dari sisi yang sempit.
Selama ini, aku selalu berpikir subjektif, karena kebanyakan cerita yang aku dengar, wanita selalu menjadi korban ketidakberdayaan cinta. Aku malu menganggap ini semua. Mungkin bedanya, para lelaki tidak menceritakan apa yang mereka rasakan. Makanya ada yang namanya LSM yang mengurus kekerasan terhadap wanita. Sepertinya belum pernah aku dengar LSM yang mengurus kekerasan atau penganiayaan Lelaki, seolah selama ini Lelaki selalu menjadi Bad Guy, padahal masih banyak juga Wanita yang juga menjadi Trouble Maker dalam urusan percintaan, entah pacar atau dunia pernikahan. Itulah salah satu kesaktian cinta, terkadang bisa memutarbalikkan fakta. Uh…. That’s the way it is..#

Pesan Moral :
Dewasalah karena Cinta

I LOVE YOU, BEIB…”


Cerita ini kupersembahkan untuk :
karakter dalam cerita ini yang telah menumbuhkan pucuk-pucuk ranum cinta… dan dia akan tetap istimewa.

Sepuluh Oktober, hari yang indah bagiku. Saat itu, aku harus menjemput Julian ke Cengkareng, untuk berlibur di kotaku, sebuah kota kecil yang selama ini menjadi tujuan liburan. Begitu exited-nya, mataku tidak bisa terpejam sampai pagi. Ada rasa was-was takut tidak terbangun, ada rasa senang yang tiada tara. Berkecamuknya rasa saat itu menguatkan fisikku meskipun tidak sedetik pun tidur. Kurebahkan punggungku ini tapi mataku melotot saling tatap dengan langit-langit yang bagiku tidak indah sama sekali.
Aku butuh waktu yang cukup panjang untuk melakukan perjalanan itu, tetapi karena kekuatan cintalah yang membawaku untuk tetap menjemputnya. Jam empat dalam dinginnya pagi yang pekat aku sudah duduk manis di travel yang akan membawaku ke Bandara. Perjalanan yang panjang di dalam travel tidak sanggup juga membawa kantukku dalam tidur. Sopir travel sebelahku mengeluarkan banyak kata-kata yang membuatku tidak enak hati, marah tidak jelas… Uh, sarapan yang sangat tidak enak. Ujian pertama dalam cinta.
Sampai di pool Tebet, semua penumpang keluar, meninggalkanku seorang diri di dalam mobil. Hanya aku yang tujuannya ke Bandara. Setelah menunggu sejenak, Sopir bawel itu masuk kembali ke dalam mobil, dan tiba-tiba memecah kesunyian.

“Maaf ya Neng, tadi bapak marah-marah. Bapak kesel kalau ada penumpang yang terlambat, soalnya bisa kena macet.” Aku hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun.
“Neng turun dimana?” kata Pak sopir kemudian.
“Kedatangan domestik, Pak.” Jawabku singkat
“Mau jemput siapa?” Uh, bawel juga ini pak sopir seperti polisi.
“Suami, Pak.” Jawabku seenaknya
“Jam berapa datang?” Lagi-lagi Pak Sopir bertanya seperti interogasi. Aku jawab seenaknya lagi, lagipula tidak akan terpakai infonya buat Pak Sopir. Mataku sudah mulai lengket seperti terkena lem. Aku jadi ingat Donald Bebek yang ambil korek api buat ganjal mata. Ideku ternyata terhenti hanya pada sebatas ide brilliant Sang Donald. Sepertinya enak jadi kartun, bisa melakukan apapun. Aku cukup terhibur dengan imajinasiku ini, meski kantukku tidak hilang.
“Masih kepagian Pak, nggak perlu buru-buru.” Untungnya aku menguap berkali-kali, yang menyelamatkan pertanyaan berikutnya dari Pak Sopir.
“Ngantuk ya Neng, nanti kalau udah nyampai bapak bangunin.” Kata Pak sopir sok perhatian.
“Makasih, Pak..” Akhirnya aku bisa istirahat, meskipun hanya tidur-tidur ayam, tentunya tanpa suara cuk..cuk..cuk.. seperti ayam beneran.

Setengah delapan aku persis berada di depan bandara . Sopir membangunkanku. Tanpa banyak bertanya, aku pun turun dan tidak lupa berterima kasih ke Pak Sopir. Sengatan matahari membuatku sadar, aku tidak menemukan tulisan “Departure Gate”. Terpaksa aku harus berjalan-jalan di pagi hari dengan membawa tas besar pindahan untuk menemukan pintu keluar yang aku cari. Asal tahu, kali ini aku rela memakai sepatu hak tinggi buat jalan, thanks God, rela pegal untuk bergaya Cobaan kedua dalam cinta.
Aku pun memberitahu Julian kalau aku sudah sampai bandara, padahal Julian pun belum naik ke pesawat, masih di seberang. Dalam kantuk yang menggoda, aku mencari tempat makan yang berdekatan dengan pintu keluar. Seperti biasa, aku harus mengabaikan selera lidah pada saat makan di bandara. Tapi Lumayan buat menyandarkan bemper sambil minum jus.
Tak lama aku duduk di tempat makan seorang anak lelaki mendekatiku menawarkan diri untuk menyemir sepatuku. Aku tidak tertarik, karena semalam aku sudah sudah mengelus-elus sepatuku sampai mengkilat.
Rasa iba ini tiba-tiba muncul, akhirnya aku sepakati untuk menyemir ulang. Aku asyik berbincang dengan Tukang semir sepatu ini, dari masalah pekerjaannya sampai masalah keluarganya. Aku menawarkannya makan tapi dia menolak, meskipun dia bilang belum makan. Aku mengamati setiap gerakan tukang semir ini, dia begitu tekun menjalankan pekerjaannya, beda dengan hasil penyemiranku, sepatuku benar-benar kelihatan berbeda.

“Belajar darimana nyemir sepatu, dik?” tanyaku
penasaran.
“Belajar sendiri.” Jawabnya sambil matanya tetap
tertuju ke sepatuku.
“Sehari rata-rata dapat berapa pelanggan?”
tanyaku lagi.
“Nggak tentu, terkadang nggak dapat sama sekali.”
Jawabnya. Miris hatiku mendengar jawabannya.
“Sudah, bu.” Lanjutnya sambil menyerahkan
sepatuku.
“Berapa, dik?” kuambil uang dari dompetku.
“Berapa aja.” Katanya malu. Aku ulurkan uang dua
puluh ribuan kepadanya, dan tidak menyangka
perubahan di wajahnya, begitu berseri-seri sambil
mengucapkan terima kasih.

Aku merasa puas dengan keputusan yang aku buat untuk menyemir ulang sepatuku, ternyata dengan keputusan itu dapat membuat orang lain bahagia. Kembali tanganku meraih jus sirsak yang ada di meja, sambil tak henti-henti melihat sepatuku yang nampak baru. Aku tersenyum, senyum penuh makna yang memacuku untuk terus bersyukur.
Ketika mataku sedang tertuju ke jam tangan yang aku pakai, tiba-tiba muncul seorang lelaki tinggi besar tersenyum padaku. Aku ragu apakah orang ini tersenyum padaku atau bukan, aku tengok ke belakang tidak ada orang lain lagi, aku pun membalas senyum itu.

“Semir ya?” hanya kata itu yang aku tangkap dari
lelaki itu.
“Udah, kok barusan.” Aku berasumsi lelaki itu
menawarkan diri buat menyemir sepatuku, tapi
herannya dia tidak membawa peralatan.
“Kelihatan, kok. Boleh aku duduk di sini?” Ops,
ternyata aku salah. Kupikir tukang semir juga.
“Silakan…” kataku singkat.
“Mau kemana?’ kembali pertanyaan terulang seperti
sopir travel.
“Jemput kok.” Kataku
“Oh, jemput pacar ya?” tanyanya menyelidik. Aku
hanya tersenyum.

Lama kelamaan aku dan lelaki ini pun asyik berbincang, dari soal musik, pergaulan sampai tempat makan. Dia bercerita panjang lebar bahwa namanya Ali, asli Ambon, muslim, sudah 9 tahun di Jakarta, dan saat itu sedang menjemput kerabat dari Ambon. Untuk ukuran Ambon, kulit Ali tidak nampak terlalu hitam, dia cenderung bersih dan logat bahasanya sudah tidak kelihatan cengkok lokalnya. Meskipun Ali cepat akrab dan enak diajak ngobrol, aku tetap ekstra hati-hati. Tiba-tiba Ali memperhatikan foto di handphone yang aku pegang, dan langsung bertanya:

“Itu foto pacar kamu?”
“Ehm… foto artis.” Kataku sekenanya.
“Siapa namanya?” Pertanyaan lanjutannya
membuatku cukup kaget.
“Nggak tahu, hehe…”

Terdengar ada pengumuman bahwa flight dari Ambon sudah mendarat. Ali buru-buru pamit.

“Sorry, aku harus jemput dulu, asyik bicara ama
kamu. Boleh aku telepon kan?”
Ali mengulurkan tangannya dan langsung pergi. Aku tidak sempat menjawab pertanyaannya. Cobaan ketiga dalam cinta.

Aku pun kembali menikmati makanan dan minuman yang jauh dari nikmat itu. Mataku tak henti memandang ke Pintu Kaluar, kalau-kalau Julian sudah datang. Seorang lelaki datang lagi, minta izin duduk di depanku. Lagi? Kali ini yang aku kenal sebagai tenaga ahli pertambangan yang baru datang dari Kalimantan. Ceritanya panjang, ketika tiba-tiba Jason Miraz melantunkan lagu “I am Yours” dari HP-ku.

“Maaf, saya angkat telepon dulu.” Kataku sopan.

Kudengar di telepon Julian memberitahuku sudah sampai, sekarang nunggu bagasi. Terpaksa aku pamit ke Bapak ini untuk cabut duluan. Dari seberang pagar, kulihat Julian mengenakan kaos kuning dan celana jeans, aku melambai. Julian menghampiriku. Setumpuk rasa kangen dan kasih sayang yang selama ini kami pendam.

“Maaf ya, harus menunggu lama.” Kata Julian penuh
kasih.
“Nggak apa-apa, kok..” jawabku sambil tersenyum.
“I love you, beib.” Kalimat ini yang kami ucapkan
ketika itu.

Kami saling peluk, Julian memberikan ciuman mesranya. Kami pun mencari travel lagi untuk langsung ke kota tujuan. Terpaksa kami harus menunggu travel yang akan membawa kami. Julian tidak sedetik pun melepaskan pelukannya.
“I Love You, Beib” jadi modal utamaku untuk menyadari adanya keindahan dalam hidup. Kata “beib” kami ambil dari “babe” yang sengaja kami ciptakan hanya untuk kami berdua, panggilan khusus dan sayang yang spesial tentunya buat kami yang sedang jatuh cinta. Ada hal sangat pribadi dengan kalimat ini, khususnya dengan kata beib.
Setiap orang mempunyai sesuatu yang khusus dan spesial untuk memaknai sebuah hubungan. Begitu indahnya jika pasangan mempunyai panggilan khusus, seolah dibalik panggilan sayang ini tersirat makna yang hanya mereka berdua yang tahu. Itu yang membedakan hubungan spesial kita dengan orang lain.
“I Love You, Beib” seolah membawa rasa ini ke sebuah konser musik dengan alunan nada megah dalam pelukan seorang kekasih. Bukan hanya enak didengar tapi mampu membuat buaian nan lembut dalam alunan indah musik cinta. Semua orang bersenandung dan menari dikelilingi bunga bermekaran dan hanya berbataskan alam nan luas, sementara burung-burung putih terbang seakan mengajak kita terbang, meski tanpa sayap.
Jujur, kalimat itu yang menguatkan setiap langkah hidup kami selama ini. Kalimat sederhana yang semua orang mungkin memakainya, tapi menjadi sesuatu yang spesial buat kami. Kata-kata indah terkadang hanya akan berhenti pada rangkaian tanpa makna, namun kalimat ini menjadi begitu dalam jika kita melibatkan rasa, jiwa dan hati dalam cinta. Seperti halnya, pada saat kita mengucapkan sesuatu yang tidak kita yakini, maka feel yang keluar pun akan berbeda dengan makna yang dimaksud. Ada pepatah yang umum kita dengar, “jangan bicara kalau tidak yakin dengan apa yang kita ucapkan”. Pernahkah berpikir itu?
Ada romantisme di dalam kalimat ini, bagi yang meyakini bahwa apa yang kita ucapkan adalah yang kita yakini. Ketika diucapkan tanpa keyakinan, kalimat ini menjadi sesuatu yang klise dan memuakkan. Terbayang dengan jelas, kalimat ini menjadi kalimat indah sebagai penutup aktifitas Julian bersamaku.
Jam satu siang aku dan Julian harus berangkat menumpang mini bus, travel antar kota. Perjalanan cinta kami yang tak pernah kami lupakan. Perjalanan penuh cinta dan kebahagiaan. Sepanjang jalan, kami saling mengagumi dan semua begitu indah. Kekuatan kalimat yang menjadi ritual kami ini benar-benar terukir dalam hati kami yang paling dalam.#

Pesan Moral :
Jangan berucap tanpa keyakinan, ciptakan romantisme meskipun dalam bentuk sederhana.